Thursday, September 21, 2017

Memudarnya Kato nan Ampek

Indak tau di nan bana, (tidak tahu dengan yang benar)
indak tau lo di nan salah (tidak tahu juga dengan yang salah)
Indak tau di nan di suruah, (tidak tau juga dengan yang disuruh)
indak lo tau jo nan di tagah (tidak tau juga denga yang dilarang)

Tidak bisa dipungkuri lagi, efek dari globalisasi sangat berpengaruh kepada tingkah laku dan cara kita bergaul di kehidupan sehari-hari. Sampai adat istiadat yang melekat pada kita, lama kelamaan akan memudar, dan dilupakan seiring dengan berjalannya waktu. Namun, kita tetap bisa melestarikan adat istiadat yang menjadi ciri khas daerah kita masing-masing, dengan cara menumbuhkan kembali rasa peduli terhadap budaya, dan memperbanyak materi pendidikan tentang budaya dan adat istiadat di daerah masing-masing, mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas, agar adat istiadat kita tidak hanya menjadi dongeng pengantar tidur saja bagi anak cucu kita kelak.

Bicara tentang adat istiadat, di Minangkabau ada istilah kato nan ampek. Dalam bahasa Indonesia, kato nan ampek  ini berarti kata yang empat. Kato dari istilah diatas berarti aturan dalam berbicara, yaitu tentang bagaimana seharusnya kita berbicara dengan orang lain. Kapan kita harus berbicara lemah lembut, kapan kita harus bicara tegas dan seterusnya itu diatur dalam kato nan ampek.
“Di ranah bundo Minangkabau ko ado ampek macam kato-kato, atau caro manyampaian parundiangan. Ado namonyo kato mandaki, kato malereang, kato mandata, jo kato manurun” (Di ranah bundo Minangkabau ada empat macam kata-kata, atau cara menyampaikan perundingan. Ada namanya kata mendaki, kata melereng, kata mendatar, dan kata menurun), ujar Buya H. Mas’oed Abidin yang merupakan seorang ulama dan tokoh adat Sumatera Barat.




Kato nan ampek itu sendiri terdiri dari, pertama kato mandaki adalah sebuah ungkapan bagaimana berbicara serta bersikap kepada yang lebih tua dari kita, di Minang sangat diajurkan untuk bertutur kata dengan sopan santun, dan menghargai orang yang lebih tua dari kita. Tidak hanya adat, agamapun menganjurkan kita untuk menghormati dan menghargai orang yang lebih tua dari kita, seperti dari anak ke orangtua, paman, bibi, kakak dan orang-orang lain yang lebih tua darinya. Kedua kato manurun adalah ungkapan yang mengambarkan bagaimana kita bersikap dan berbicara dengan yang lebih muda dari kita, salah satu tindakan kato manurun adalah bagaimana menyayangi yang lebih kecil dari kita seperti orang tua kepada anak, kakak kepada adiknya. 

Ketiga kato mandata sering digunakan untuk berbicara dan berprilaku kepada yang sama besar dengan kita, misalnya teman sebaya. Terakhir, kato malereng ungkapan sikap dan prilaku kepada orang yang kita segani, dimana kita tidak asal berbicara dan membaca apa yang tertera saja,
melainkan harus memikirkannya terlebih dahulu sebelum dikatakan kepada orang lain. Kato malereng biasanya berisi ajaran atau pituah.

Begitulah adat istiadat di Minangkabau dalam mengatur cara berbicara masyarakatnya. Dengan menerapkan kembali kato nan ampek di tengah-tengah masyarakat sekarang ini, maka akan bisa melahirkan keakraban dan rasa kekeluargaan yang erat antar masyarakat. Serta akan menciptakan generasi yang arif dan bijaksana, dan bisa menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat.

Urang nan bijaksano, hanyolah nan tau di alamaik maso lalu, tau di tujuan maso datang, tau di jalan nan sadang batampuah, tau lo di tampek parantian. Baitulah handakno hiduik nangko”(orang yang bijaksana hanyalah orang yang tahu akan masa lalu, tahu dengan tujuan untuk masa depan, tahu dengan jalan yang dia tempuh, tahu dengan tempat pemberhentian. Begitulah hendaknya hidup), ujar Buya H. Mas’oed Abidin dikutip dari web beliau.

3 comments:

  1. It's nice to know that your first post is about adat istiadat Minang. Keren! Keep a good work Andi!

    ReplyDelete
  2. Keren banget sih! Jadi nambah wawasan soal budaya di sana. Salut-salut. Jarang ada yang mau bahas soal budaya, memang jaman sudah terlalu maju, sehingga lupa lihat ke belakang, masih ada yang perlu diperhatikan.


    main-main juga ya ke sini www.hotlasmore.tk

    ReplyDelete
  3. Iya bener sekali. Kato nan ampek itu perlu diterapkan dalam kehidupan kita. Karna dg kato nan ampek itulah hidup akan terasa lebih indah dan tentram

    ReplyDelete