Thursday, October 5, 2017

Aku Akan Kembali


Meninggalkan kampung halaman untuk merantau memang sulit, tapi itu sudah menjadi tradisi yang mengalir di darah lelaki minang. Semua itu memang berat,  karena kita harus meniggalkan semua yang telah dilalui dan dapatkan sejak kecil. Kita akan memulai hidup yang baru, di tempat yang baru, dan dengan suasana yang baru.

***
Di suatu pagi yang dingin, disebuah desa yang jauh dari keramaian. Aku melihat ibu sedang asik mengayunkan sapunya, membersihkan dedaunan kering yang bertebaran di halaman rumah. Sedangkan di depan rumah, ayah sibuk membaca koran dengan ditemani secangkir kopi. Ini merupakan kegiatan yang dilakukan ayah sebelum pergi ke ladang. Dedaunan kering yang dibakar ibu membuat asap mengepul di samping rumah. Sungguh pagi yang tenang dan damai, ketika suasana desa yang jauh dari suara bising kendaraan dan hiruk pikuk seperti di kota. 
Dari balik jendela aku memperhatikan kedua orangtuaku, wajah mereka yang sudah mulai menua, rambut  sudah mulai memutih, dan tubuh yang sudah tidak berdiri tegap. Mereka sebentar lagi akan kutinggalkan untuk merantau, melanjutkan pendidikanku setelah menamatkan sekolah menengah atas. Memang sedih, tapi itu harus aku jalani demi melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Namaku Dani, aku adalah anak ke empat dari lima bersaudara. Aku tinggal di sebuah desa yang berada di Pariangan. Aku berasal dari keluarga buruh tani. Ayahku seorang buruh tani, dia berkerja di sawah dan kadang di ladang, dan begitu pula ibuku. Aku tidak pernah malu akan status keluargaku, karena itu kebanggaan bagiku yang tidak dimiliki orang lain. Walaupun kami hidup sederhana, kedua orang tuaku tetap berusaha menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Ayahku pernah berkata “selagi masih ada tenaga dan diberi kesehatan aku akan berjuang menyekolahkan anak-anakku setinggi-tingginya, dan harus melebihi kedua orangtuanya yang hanya tamatan sekolah dasar.”
Dilihat dari semua pengorbanan orangtua, kedua orang tua akan berjuang dan berkorban apapun demi masa depan anak-anaknya. Masih teringat diingatanku, ketika ibu yang tidak memperdulikan sakitnya dan tetap pergi keladang orang. Dan begitu juga dengan ayah, yang ketika itu masih tetap pergi kesawah walaupun kakinya sedang pincang, kakinya luka akibat tekena paku. Semua itu mereka lakukan semata mata untuk membahagiakan anak-anak mereka.

***
Pada tahun 2012 aku lulus dari sekolah menengah pertama, alhamdulillah aku diberi kesempatan utuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di pulau jawa, tepatnya di kota Jakarta.
Selama ini aku belum pernah pergi meninggalkan keluarga untuk waktu yang lama. Ini sangatlah berat bagiku, terutama meninggalkan ayah dan ibu, karena mereka dua orang yang sangat berjasa dalam hidupku. Aku sangat dekat dengan ibu. Aku selalu membantu ibu bekerja, kadang aku pergi mencari ubi talas dengan ibu ke hutan, dan aku membatu ibu di dapur menyiapkan makanan. Dan tidak beda halnya dengan ayah, aku juga sering membantu ayah, mulai dari kesawah, keladang dan membantu mencari rumput untuk sapi. Aku sangat bahagia masih bisa melihat ayah dan ibu hingga sekarang, aku akan berusaha dan berdoa agar ayah dan ibu bisa melihatku sukses nanti, dan aku juga ingin ketika aku sukses nanti, kedua orang tuaku tidak bekerja lagi. Mereka akan aku suruh bermain dengan cucu-cucu saja di rumah, sembari menikmati hari tua mereka kelak.

***
Jauh sebelum keberangkatanku ke pulau jawa, Ayah dan Ibu selalu memperingatkanku, agar selalu berhati-hati dirantau dan tidak tersesat akan pergaulan disana. Ibuku juga berpesan “setiap yang kamu lakukan selalu ingat orangtuamu di kampung dan selalu ingat Allah SWT”.
Hari-hari sebelum keberangkatanku adalah hari-hari yang sangat berat bagiku. Mungkin karena ini pertamakalinya aku merantau, pertama kalinya aku meninggalkan keluarga untuk waktu yang lama, pertama kalinya aku naik pesawat. Semua candaan ayah dan candaan ibu ketika kita berkumpul bersama tidak akan kurasakan lagi. Terlebih pada masakan ibu, yang membuat aku tambah berat meninggalkan rumah, tempat yang telah membesarkanku dan mendidikku dari kecil. Aku tidak akan mendapatkan semua itu lagi, karena aku akan tinggal sendirian di negeri orang.
Selama aku menunggu hari keberangkatan, aku selalu diberi nasehat oleh Ayah dan Ibu. Begitu tulusnya cinta Ayah dan Ibu untuk anaknya, agar nanti anaknya tidak terjerumus ke jalan yang sesat. Aku sangat kagum dan bangga dengan Ayah dan Ibu, walaupun mereka belum pernah merasakan hidup di kota besar seperti Jakarta, dan belum pernah merasakan bagaimana rasanya naik pesawat. Namun mereka selalu berjuang, agar pendidikan anaknya bisa setara dengan anak-anak yang hidup di kota Jakarta. Aku tidak akan pernah mengecewakan semua yang telah diberikan oleh ayah dan ibu.

***
Hari keberangkatan yang ditunggu pun datang, ini adalah saatnya aku pergi ke pulau jawa. Ayah, ibu dan adikku pergi mengantarkan ku terminal bus, karena aku naik bus dahulu untuk bisa sampai ke bandara, sebab jarak bandara dengan desaku sangat jauh. Sedangkan kakakku yang tiga orang lagi sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, jadi tidak sempat untuk mengantarkanku ke terminal bus. Setelah aku berpamitan ke saudara-saudaraku yang lain, serta tetangga di sekeliling rumahku, barulah aku berangkat ke terminal bus.
Sungguh ini adalah bagian yang paling berat dalam hidupku, pergi meninggalkan tanah kelahiran dengan jutaan cerita yang telah kurangkai selama ini. Kupeluk satu persatu orang yang aku sayangi, mulai dari ayah, ayah yang bisanya kulihat sehari harinya kuat, tegar dan ceria, entah kenapa pada saat itu ayah sedih, dan mengeluarkan air mata, namun beliau tetap mencoba tersenyumagar anaknya tidak terbebani dengan kesedihan yang dia rasakan, ayah berkata kepadaku “dan kamu harus bisa jaga diri disana, jangan mau terbawa arus pergaulan disana, kamu boleh bergaul tapi harus tahu batasnya” kata ayah sembari mengelus kepalaku.
Setelah itu aku memeluk ibu, aku melihat mata ibu yang sudah memerah dan menitikan air mata, aku juga tidak kuasa menahan air mataku ketika memeluk orang-orang yang aku sayangi untuk terakhir kalinya sebelum aku jauh dari mereka. Ibu juga berpesan kepadaku “dan kalau disana jangan lupa shalat, selalu ingat allah dan selalu ingat keluargamu di kampung”, ujar ibu. Selain itu ibu juga terus meyakinkanku dan menguatkanku, walaupun ibu juga tidak sanggup untuk melepaskanku.
Terakhir aku peluk adikku, dia hanya diam namun di raut wajahnya juga tergambar kesedihan, aku berjanji akan membahagiakannya. “kamu harus rajin-rajin belajar, biar nanti bisa kuliah juga, jangan nakal di rumah, kalau di suruh sama ayah atau ibu nurut, dan kamu harus jagain ayah sama ibu dan tolong mereka dalam kesusahan atau tidak” ujar ku sembari melepas pelukan.
Pada saat detik detik keberangkatanku, aku melihat ayah, ibu dan adik melambaikan tangan. Kakiku tambah semakin berat untuk melangkah, air mata ku semakin deras mengucur. Hatiku mulai merasa sepi. Rasa sepi yang akan aku rasakan nanti di perantauan walau di dalam keramaian.
“dani hati-hati, jaga dirimu baik-baik di sana”, tiba tiba ibu berteriak kepadaku, tanpa mempedulikan keramaian di sekitarnya. Aku tahu ibu sangat berat melepaskan kepergian salah seorang putranya ke negeri orang, dengan perasaan yang sedih aku mencoba membalas lambaian tangan keluargaku dengan senyum.
Aku berjanji kelak akan membahagiakan kedua orang tuaku, meringankan bebannya dimasa tua nanti dengan membantu menyekolahkan adikku. Sampai jumpa ayah, ibu dan adikku. Aku pamit pergi dulu, aku pergi bukan untuk selamanya, tapi aku pergi untuk kembali kepada kalian, Doakan diriku sukses di rantau orang. Aku pasti akan kembali lagi berkumpul ditengah-tengah kalian.

0 comments:

Post a Comment